Pulau Mursala

Awan mendung yang menggantung di langit Sibolga Minggu (10/9) pagi itu sempat menyurutkan niat bepergian. Mengarungi laut dari dermaga Pangkalan TNI Angkatan Laut Sibolga menuju Pulau Mursala di Samudra Hindia dalam ancaman badai bukan perkara mudah, sekalipun kapal tersebut biasa berpatroli di perairan itu.

Sebenarnya yang dituju adalah Pulau Putih, pulau kecil yang berdekatan dan berada dalam gugusan Pulau Mursala. Jarak Pulau Putih dari Sibolga lebih kurang 12 mil laut dan ditempuh dalam waktu 45 menit dengan menggunakan Kapal TNI Angkatan Laut (KAL) berkecepatan 18 knot. KAL yang ditumpangi itu memiliki panjang 28 meter dengan nama lambung Mansalar, nama lain untuk Mursala.

Perihal cuaca buruk di Pantai Barat Sumatera Utara memang sudah sering terdengar. Bahkan bila dalam cuaca badai, tinggi gelombang di perairan ini bisa mencapai tiga hingga lima meter. Teringat cerita Komandan KAL Mansalar Letnan Satu TP Simbolon saat melakukan operasi penyelamatan terhadap korban KM Surya Makmur Indah yang tenggelam. Musibah itu mengakibatkan 17 orang tewas dan 37 penumpang lainnya sampai sekarang belum ditemukan.

"Waktu itu kapalnya sudah kami temukan dan terlihat, tetapi tinggi gelombang menghalangi kami mendekat. Daripada kami juga ikut tenggelam dihantam gelombang, saya putuskan untuk menjauhi lokasi kecelakaan," ujar Simbolon.

Beruntung, mendung pagi itu rupanya tak terlalu lama karena sinar matahari pun kemudian menerobos dari celah–celah perbukitan yang mengelilingi Kota Sibolga. Namun, perasaan cemas masih juga bergayut meski laut dalam keadaan tenang saat kapal berlayar. Pagi itu ikut keluarga prajurit di jajaran Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Sibolga dan masyarakat sekitar pangkalan ikut juga berlayar ke Pulau Putih.

Buritan kapal penuh penumpang, mulai dari ibu–ibu hingga anak–anak kecil yang tampaknya terbiasa dengan cuaca buruk di perairan sekitar Sibolga. Tak tampak rasa cemas di wajah mereka. Yang ada malah keriangan dan canda tawa sepanjang perjalanan.

Di tengah perjalanan, tas pinggang salah seorang penumpang terjatuh ke laut. Si empunya tas duduk di pinggiran buritan, sementara tali tas pinggang tidak terlalu kuat melekat pada tubuhnya. Alhasil, komandan kapal memutuskan memutar haluan mencari tas tersebut. Tak berapa lama, tas berwarna hitam yang masih mengapung di lautan itu terlihat dan bisa diambil kembali meski peralatan elektronik seperti kamera dan telepon seluler di dalam tas itu mungkin tak terselamatkan.

Pasir putih

Perlahan Pulau Mursala mulai terlihat seperti gundukan bukit kehijauan. Di depannya terletak dua pulau kecil, Pulau Putri dan Pulau Putih. Pulau Putri lebih mirip gugusan karang tak berpenghuni yang dikerubuti tanaman berwarna kehijauan.

Sementara itu, di Pulau Putih dermaga kayu dan hamparan pasir putih yang mengelilingi pantainya terasa elok dipandang dari kejauhan. Belum lagi keindahan air laut yang berwarna hijau di pinggirnya serta membiru setelah agak ke tengah, semua itu ibarat komposisi yang pas untuk hiasan pulau mungil tersebut.

Di dermaga kami dijemput Arizisokhi Zega, lelaki asal Nias yang menjaga pulau itu bersama empat anaknya. Selain keluarga Zega, memang tak ada lagi penghuni di Pulau Putih. Zega dan keluarganya digaji oleh pemilik Hotel Wisata Indah Sibolga untuk mengelola resor di Pulau Putih.

Selain rumah untuk tempat tinggal Zega bersama keluarganya, di Pulau Putih terdapat tiga bungalo untuk pengunjung yang menginap serta tiga gazebo. Bangunan gazebo ini cukup unik karena di tengah–tengahnya terdapat tempat khusus untuk membakar ikan. Sementara itu, puluhan pohon kelapa meneduhi bangunan–bangunan tersebut membuat nyaman pengunjung yang ingin melepas penat dengan menikmati keindahan pantai.

Menurut Zega, penamaan Pulau Putih tak lepas dari hamparan pasir putih sepanjang pantainya. Karena letaknya yang berhadapan langsung dengan Pulau Mursala, pasir putih di Pulau Putih terlihat sangat bersih dan membuat banyak orang betah berenang di pantai sekitar itu.

Langsung dibakar

Selat kecil yang memisahkan Pulau Putih dengan Pulau Mursala juga kaya ikan karena terumbu karang di perairan tersebut relatif masih terjaga dari aktivitas pengeboman ikan. "Mereka yang datang ke sini juga sering hanya sekadar memancing. Ikan–ikan karang seperti ikan kerapu dan ikan jarang gigi banyak terdapat di sekitar sini," ujar Zega.

Selesai memancing, pengunjung bisa langsung menikmati hasil pancingannya itu di gazebo. Menikmati ikan bakar sambil memandangi birunya lautan dan desahan angin bisa membuat orang lama bertahan di pulau yang luasnya tak lebih dari lima hektar itu.

Bagi yang hanya ingin menikmati birunya lautan memang cukup berenang di pinggiran pantai, sedangkan yang hobi menikmati keindahan bawah laut, terumbu karang di dekat Pulau Putih bisa dinikmati dengan cara menyelam maupun snorkeling. "Terumbu karang di sini relatif terjaga karena bebas dari aktivitas pengeboman ikan," ujar Komandan Lanal Sibolga Letnan Kolonel Laut (P) Jaka Santosa.

Kalau ingin menikmati keindahan bawah laut di sekitar Pulau Putih, yang paling mudah memang snorkeling, mengingat peralatan yang dibawa tidaklah terlalu merepotkan. Pengelola pulau tidak menyediakan peralatan snorkeling maupun selam. Karena itu, bagi yang ingin menyelam, mereka harus membawa peralatan selam lebih dulu dari Sibolga.

Meski terumbu karang di perairan sekitar Pulau Putih sangat indah, mereka yang berenang, menyelam, maupun snorkeling harus berhati–hati dengan bulu babi. Biota laut yang memiliki duri–duri di sekitar tubuhnya ini sewaktu–waktu bisa melukai kita jika berenang atau menyelam di dekatnya. Tusukan bulu babi bisa membuat demam karena racun yang terkandung di dalamnya.

Selesai berenang, pengunjung bisa melepas lelah sambil menikmati air kelapa muda yang segar. Untuk itu, dua anak tertua Zega siap melayani. Satu buah kelapa muda dijual Rp 5.000. Rasanya tak lengkap bila seharian berenang dan tidak menikmati kesegaran air kelapa muda itu.

Pulau Putih yang eksotis itu memang tak banyak dikunjungi orang. Menurut Zega, hanya hari Minggu atau hari libur saja orang mau datang ke Pulau Putih tersebut. Jadi tak perlu heran pula kalau tempat penginapan dan fasilitas umum di lokasi itu kurang terawat. Zega mengakui, dia dan keluarganya tak bisa berbuat banyak karena hanya bertugas sebagai penjaga pulau.

Belum lagi, sarana transportasi untuk mencapai pulau tersebut pun terbatas. Meski relatif tidak terlalu lama ditempuh dari Sibolga, pengunjung yang sengaja ingin menikmati eksotisme Pulau Putih harus mau mengeluarkan ongkos cukup mahal. Dengan menyewa perahu nelayan, seorang pengunjung harus membayar Rp 75.000 untuk perjalanan pergi–pulang Sibolga–Pulau Putih. "Biasanya menggunakan perahu nelayan bermesin 200 PK. Waktu tempuhnya sekitar 20 menit. Atau bisa menyewa kapal cepat. Harga sewanya sekitar Rp 1,2 juta untuk pergi–pulang," kata Zega menjelaskan. (Khaerudin)

Foto By : KOMPAS/ KHAERUDIN
Caption Foto : Keindahan Pulau Putih bisa dinikmati dengan berenang di sepanjang hamparan pasir putih yang bersih. Selain itu, kita juga bisa menyelam atau hanya sekadar snorkeling terumbu karang di sekitar perairannya yang masih terjaga dari kerusakan bisa dinikmati sepuasnya.

Sumber : kompas.co.id